Showing posts with label Meracau. Show all posts
Showing posts with label Meracau. Show all posts

Tuesday, September 27, 2011

Fairytale wedding

Suatu hari yang absrud gue sakit dan nonton film peter pan. Dia bilang "one fairy will die if you say fairy is not exist...or there is no such thing like fairy". As we grow up, we become more realistic, we no longer believe in fairy tale and happy ending.

I have been wondering lately yah... soal hal-hal menyangkut perkewongan ini, I was really excited in wedding stuffs, I am a big fan. Being a bride is every girl dream. Tetapi, excitement-nya hilang disaat I'm preparing the wedding itself. Looking at the budget, picking the vendor, the vendor betrayal *urghhhhhh*, so little time so much to do, too many people talk at the same time, too many "seharusnya kaya gini..." "gak boleh gini.." "harusnya kamu...".


Mungkin salah gue adalah, gue gak devoted my time to prepare the wedding and I didn't have professional help. Next time mungkin gue pakai EO kalau tau gue ga punya waktu untuk ini semua. So, I'm working my ass off here from the sun rise until it rises the very next day, while everyone calling me asking why I didn't get to the family meeting of my wedding in a town 180 km away from the place where I live. Belom lagi permintaan a, b, c, d -what ever, sehingga orang-orang mikir gue gak serius ngurusin atau gak menghargai atau apapun lah yang mereka pikir seharusnya gue lakuin tapi gue gak bisa,

Sehingga gue menjadi sangat realitis. I don't hang my hope up high in this so called celebration of love yah... My only wish is please get it done, ASAP, fast forward to Nov 13th please....

All I ever wanted was a simple wedding, where I can wear a simple pretty dress, with man I love, give my vow and live happily ever after.
sounds like fairy tale to me.
Yah, I'm the one who choose to be realistic, i have no other option other than just suck it up. Stick with it. Make it work.


Progress as per 27 September 2011:
-Semua ud fixed kecuali MC. Tinggal bayar DP, lunasin, ambil.

Sunday, April 17, 2011

Friday i am in love

This story happened a long time ago...

Jumat malam kelabu, setelah pulang kantor, si Kaki Berbulu lembur. We just got back from our super long exciting journey. Dan si Muka Lebar stuck di kosan, drown in her new duty favorite activity browsing for vendors .

As we said earlier yah, jarak mak. JAUH. 
Therefore...
Waktu mak. We don't have enough time. 

Sehingga karena waktu adalah sebuah kemewahan bagi kami. We will do all the things necessary to simplified our search... Mencari vendor dan refresi vendor tersebut dari internet adalah salah satu pilihan.Sehingga dari puluhan vendor kita bisa buat short list yang kita mau berdasar refrensi.Baru kita ke Bdg untuk mencari 3 vendor di urutan teratas....

Awalnya, that is how things supposed to work... Anyhooo...
Orang Bandung gak semuanya suka bikin web. Sehingga terbatas sekali pilihan. Ditambah sedikit refrensi yang bisa didapat. Lebih mengenaskan, mostly yang gue tanya, vendor-vendor yang productnya sangat ciamik, bagus, harganya ala mak jaaang laranggnyooo! (Yg punya blog hanya mereka yang harganya diatas rata-rata).

Sehingga, setiap kali dapat email balasan dengan judul pe-el pake kapital semua, begitu buka, lihat harganya, huks. Bikin nyesek, megap-megap, pucet terus pengsannnn... Begitu selalu reaksi si Muka Lebar yang notabene adalah seorang anak baik hati, tidak sombong, suka menolong dan rajin menabung tapi entah mengapa seringkali tongpes terutama di awal bulan, setelah bayar kartu keredit) setelah baca email balasan buat dari vendor-vendor yang produknya lucu dan imut kaya marmut kentut... Sampe desperados kudos meledos! Hoaaaaaaa!!!!!!!

Sampe di satu titik, gue muak baca PL! 
Baca PL dan cari vendor, I'm done with all of you!

Gue ga mau cari vendor lagi
Sakit hati,

Wedding industry, with the core business to create so called 'the most beautiful moment of your life, where all the things seem all so perfect'. Industri menjual mimpi. Asal harganya cocok.
Role player dalam industri ini adalah majalah, yang isinya membentuk pikiran gadis remaja wanita Indonesia kalo kawinan ini musti begindang, selain itu akika tinta mawar.

Padahal kalok ngeliyat kawinan di the amazing Green Wedding Shoes kagak bakalan deh yang kaya begini kejadian. Wedding ceremonies and its celebration seharusnya "be resourceful" (mengutip Pak Bondan).
Gue maunya, kawinan di taman, in this case, taman rumah bokap gue (ya iya lah gue belon punya rumah).  Yang gak luas, tapi di atapnya rindang oleh tanaman merambat (yang semoga gak ada ulet bulunya, karena lagi musim ulet bulu). Lampion putih hijau, pake lilin pinggirnya, makanannya bikin sendiri,  kuenya bikin sendiri, di meja panjang, cuma keluarga dan sahabat terdekat.


Pas gue lagi browsing si kawinan di Green Wedding Shoes ini dan ke gep sama seketearis kantor gue (yaahh ketauan deh gak kerja, malah brosing begituan) doi langsung bilang "Lo ga bisa punya kawinan kaya gitu, itu kan bule...". Orang indonesia mah kalo kawin yang diundang anak cucu semenda 7 ke atas dan ke bawah, tetangga se RT-RW, temen SD-SMP-SMA, Kuliah dan Kerja BOKAP dan NYOKAP. Baru deh sisanya temen mempelai (if any).......

I wish i could have just a simple wedding.
My be i can, in my dreammmmm.......
Blaaaaaaarrrr!!!

Jadi mesti gimana nih? Buat dapetin vendor yang harganya selangit?
a. Ngamen
b. Rampok
c. Nyulik artis berinisial AB
d. Apply ke mafioso
e. Jadi superman abis itu main iklan sampo
f. Jadi mucikari
g. Part time jadi badut Dufan
h. jadi perompak
i. Beruang ngepet (ga ada icon babi adanya ini )
j. jadi nene sihir trus ngubah daun jadi duit
k. ..................................................................................

Friday, March 18, 2011

Like a G-6

Seperti yang telah didiskusikan sebelumnya. Urusan pernikahan ini sungguh luar biasa bambetnya...
Jadi kisah ini terjadi jauh-jauh-jauh sebelom tim solek ditemukan...

Jadi karena pindah acaranya, dan pihak-pihak pelaksana perkewongan ini newbie (keluarga si Muka Lebar), jadilah proses pencarian dari awal ini pain in the *ss! So, many things to be booked, limited budged and the other bridezillah dan groomzillah make it worst dengan nge-tagggg semua vendor-vendor bagus dengan harga ekonomis H-365... Sintiang!

Ditambah lagi ide-ide para ibu:
si Muka Lebar: "Aduh, di Bandung, mahal vendornya...."
My beloved butut: "teh biar ga pusing, kita pake aja dekor, solekan, dll... semuanya dari Surabaya, daripada di Bandung mahal teh..." *buju buset, gedungnya gak sekalian mah, bawa dari Surabaya*
si Muka Lebar: "Iya tante di Bandung make up-nya mahal..."
My MIL-to be: "Temen tante ada tuh, suka rias manten.. udah sepuh sih, umurnya 90, tapi masih bisa rias manten kok..." *nanti hasilnya si Muka Lebar kaya riasan ratu-ratu tanah jawi jaman Majapahit trek dung dung cesss... -sepurane sing katah nggih mbah.. si Muka Lebar sek enom...nek ngomong ya ngomo kuwi... HALAH bahasa Jawa taunya cuma seiprit sok2an...-*  

si Kaki Berbulu juga gak memberikan kontribusi solutif, misalnya:
si Muka Lebar: "Aduh belom dapet entertaiment nih... Apalagi buat attract the crowd (pas mempelai masuk, semua tamu akan memperhatikan kita)"
si Kaki Berbulu: "gampang, undang Aura Kasih aja... pasti org langsung pay attention apalagi kalo bugil..." *iya elo seneng, ampe ngeces.. *
si Muka Lebar: "aku pengen ada saxofon, biar bisa jazz... gimana yah?"
si Kaki Berbulu: "temen aku ada pemanin saxofon, SKA..." *abis itu moshing kita*

dan banyak ide imaginer lainnya kaya "jangan tim solek ini, tempat orang kawin dua kali, liat CPP-nya udah tua semua" ato "kamu cocok banget pake baju ini (foto pengantin pake sarung kotak2 ijo orange, dengan riasan kepala ala eryka badu)", dll....

Semua ide-ide si Kaki Berbulu yang imajiner dan bikin si Muka Lebar ringan tangan (pengen nabok bawaannya), maka diputuskan lah, suatu hari sabtu yang mendung, si Kaki Berbulu fitnes, sementara yang mengurusi perkewongan si Muka Lebar, si Wabistan dan si Liatuz (bintang tamu dari Surabaya) tujuan kita ke toko kain untuk membeli kain lamaran dan survey seragam buat keluarga dan sahabat...

Destinasi Pasar Baru, karena si Wabistan nampaknya suka malak disini dan cukup mengenal tidak hanya preman setempat tapi juga toko kain bagus dengan harga bersahabat... Hahaha, bagus kan.

Perjalanan dimulai, dari nunggu Wabistan di Bakoel Koffiee sambil belajar bahasa Belanda dari temen Liatuz yang orang Belanda dan namanya si Muka Lebar ga tau cara nulisnya lupa, pokoknya nyebutnya "nude". Untung doih gak nude... wkwkwk... Si Wabistan akhirnya datang (telat abis ngumpulin setoran dari preman pasar), dan cabut lah kita ke Pasar Baru.

Dari pertama, si Muka Lebar merasa matanya terasa tidak enak karena gak pake kacamata (ketauan deh si Muka Lebar pake kaca mata, wkwkwkwk), di toko kain yang dituju, (namanya lupa, yang jual India *ya iya lah!*), ditengah pemilihan warna (si si Muka Lebar bilang "Hijau Celtic mas", si masnya "Hijau Botol Mba",si Muka Lebar "yang kaya hijau star buck, mas" dan si mas "ya hijau lumut?"... yah what ever lah mas...)

Untungnya setelah ditunjukan beberapa hijau, si Muka Lebar tertarik dengan so called- the most beautiful green that she has ever seen... semi french lace pulak, dengan nego-nego wabistan dapet harga bagus (curiga nego-negonya ngurangin "uang kemaanan" jatah doi, but thanks mannn!) langsung dipeluk dan gak mau dilepas. HAHA!

Kemudian cari warna putih untuk akad, tiba-tiba, entah karena ramai, penuh brokat cantik dan mahal gak karu-karuan (gak mampu kasiang), tiba-tiba, tanah bergoyang, hohoho... jadilah kita pindah ke toko yang less crowded dengan kursi (masih jajahan langganan si Wabistan) dan karena tak kuat berdiri si Wabistan dan Liatuz yang mencari kainnya...

Singkat kata setelah, sakit kepala tak tertahankan muter2, gedok-gedok, tipsi-tipsi, badan mulai terasa ringan i feel like i'm flying (in the worst way that i could imagine)... untung ga pake nyanyi "I'm flying so high like a G-6.. like a G-6... When sober girls around me, they'd be actin' like they drunk" sambil jejogetan... Tak kuasa menahan sakit (lebay) akhirnya nelpon si Kaki Berbulu nangis-nangis (sampe nelpon resepsionis tempat fitnes, si embak ngomongnya "Pak, telpon dari istrinya "EMERJENSI" pak!", tahunya kemudian setelah si Kaki Berbulu cerita "Damn, ketauan bini gue fitnes disini---> that makes me the other woman,red" ) akhirnya, si Muka Lebar terkapar di UGD di sebuah rumah sakit di Jakarta Tengah.

Kata dokternya, si Muka Lebar sutresno dan kecapekan... (secara medis pembuluhdarah otak menyempit dan oksigen ngalir dikit dan blablbalbna ^%&()(!@#@@#).

Tapi yang penting kebaya hijau celtic terbeli YES!

Tuesday, March 8, 2011

Mukadimah slash Preface


Should I make a wedding blog or shouldn’t I?

Setelah banyak pertimbangan akhirnya si Muka Lebar mau bikin blog, dengan petimbangan:

Emosi jiwa, sungguh yah... the kewong preparation is not easy at all… this wedding industry drives me crazy, sungguh persiapan pernikahan hanya untuk orang-orang yang sudah pasti mau nikah (bukan yang masi iya-iya engga-engga )
dan orang-orang yang gesit dan cepat bergerak karena
bahkan di bulan kedua vendor-vendor sudah mulai terbooking untuk akhir tahun… 
Gilaaaa kalian semuaaaa (nangis Bombay)

Secara kompetitif kemampuan si Muka Lebar dan si Kaki Berbulu dalam persiapan udah kalah start dari segi jarak dan waktu. Awalnya kita merencanakan acara di nunjauh di timur Jawa dan karena satu dan lain hal ternyata yak trek tek tek dung dung cess berubah menjadi Bandung

We totally have no idea di Bandung musti mulai dari mana ditambah kita juga tidak tinggal di Bandung.

Jadi mari lah kita berdoa agar, harga minyak mentah dunia stabil walaupun Libya digoncang demonstrasi, dan agar si Muka Lebar dapet make up yang oke biar mukanya bisa secakep Angelina Jolie atau J.Lo. Bagus-bagus kalo si Muka Lebar bisa pake gaun yang sama sama doih ato gaunya Vera tzzrttrtrtrt  … Sudah cukup mimpi di siang bolongnya, semoga acara kawinan si Muka Lebar lanjar jaya.

Well anyway, mari kita mulai ikhtiar mempersiapkan acara paling besar dalam hidup si Muka Lebar  dan Kaki Berbulu tahun ini setelah backpacking 8 hari ke Vietnam (paling besar butuh duitnya…) dengan basmallah…

Bismi-llāhi ar-ramāni ar-raīmi